Sabtu, 26 Desember 2015

ANALISIS KESALAHAN SINGKATAN DAN AKRONIM PADA SURAT KABAR KEDAULATAN RAKYAT EDISI 10 FEBRUARI 2014

ANALISIS KESALAHAN SINGKATAN DAN AKRONIM PADA SURAT KABAR KEDAULATAN RAKYAT
EDISI 10 FEBRUARI 2014


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu
mata kuliah Bahasa Indonesia
                  Dosen Pengampu: Drs. Ahmad Yamin Suprayoga, M. Pd



Disusun oleh:

Akmal Maulana Subchi




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NU PURWOREJO
 2015





KATA PENGANTAR

        Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas rahmat, taufik, serta hidayah-Nya makalah ini dapat penulis selesaikan. Makalah ini berjudul “Analisis Kesalahan Singkatan dan Akronim pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Edisi 10 Februari 2014”, yang disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Penulis menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penulis berharap adanya kritik dan saran agar lebih baik pada pembuatan makalah selanjutnya. Penulis hanya dapat berdoa semoga Allah Swt. memberikan balasan yang berlipat ganda atas budi baik yang telah diberikan. Semoga makalah  ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.


                                                  Purworejo,       November  2015
                                                                                                                        Penulis,


                                             Akmal Maulana Subchi






DAFTAR ISI



                                                                                                                  Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………..     i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………      ii
DAFTAR ISI .………………………………………………………………………….     iv

BAB I  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah ............................................................................      1       
B.    Rumusan Masalah .....................................................................................       3
C.    Tujuan Penelitian ......................................................................... ............       3

BAB II  PEMBAHASAN
A.    Singkatan ........................................................................    ....................         4
B.    Akronim ..................................................................................................        10

BAB III KESIMPULAN
A.    Kesimpulan .............................................................................................        13

BAB IV  PENUTUP
A.    Saran ........................................................................................................       14


DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................      15    








BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
        Manusia sebagai makhluk sosial selalu berhubungan dengan orang lain. Mereka saling berinteraksi dengan orang lain melalui aktivitas berbahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan manusia untuk mengungkapkan pesan kepada orang lain. Masyarakat Indonesia menggunakan bahasa resmi yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa dapat dipergunakan untuk mengungkapkan pesan, keinginan, ide, dan pendapat. Salah satu ragam dalam bahasa Indonesia ialah ragam surat kabar.
            Surat kabar merupakan salah satu media komunikasi tulis. Media ini ada yang terbit setiap hari, tiga kali dalam seminggu, dan perbulan yang memberitakan berbagai hal dan peristiwa yang sifatnya penting, menarik dan unik yang terjadi di dalam dan di luar negeri. Peristiwa itu yang disebut sebagai berita. Surat kabar menyediakan kolom atau halaman untuk berita dan artikel, tajuk rencana, opini, dan iklan. Terlepas dari iklan, berita, tajuk rencana dan artikel yang ditulis pada surat kabar, sudah seharusnya menggunakan bahasa yang baik karena surat kabar merupakan salah satu media yang membantu pembelajaran bahasa Indonesia kepada masyarakat. Namun, tak jarang masih banyak ditemukan kesalahan berbahasa yang digunakan dalam sebuah surat kabar.
            Terdapat kecenderungan, mengapa para jurnalis melakukan kesalahan dalam berbahasa. Pertama, mungkin mereka kurang peduli terhadap bahasa dalam tulisannya sehingga dianggap angin lalu. Kedua, mungkin para jurnalis kurang menguasai kaidah penulisan bahasa yang baik dan benar atau yang sesuai dengan ejaan yang di-sempurnakan. Dalam penulisan suatu berita atau tulisan dalam media massa hendaklah memiliki buku panduan dalam penulisannya. Seorang jurnalis membutuhkan pegangan atau sumber rujukan yang bisa meningkatkan kredibilitas dirinya di mata masyarakat. Secara psikologis pedoman penulisan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) diharapkan dapat membantu jurnalis dalam menulis beritanya agar bahasa yang digunakan tepat.
            Surat kabar Kedaulatan Rakyat merupakan surat kabar harian yang terbit sejak 27 September 1945. Surat kabar yang biasa disebut KR ini didirikan oleh HM. Samawi dan H Soemadi Martono Wonohito. Surat kabar Kedaulatan Rakyat memiliki berbagai konten berita yang terdiri dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Nasional, Internasional, Ekbis, Pendidikan, Sport, Lifestyle, Wisata , Teknologi dan konten Konsultasi Penanggalan. Berita yang diberitakan oleh Kedaulatan Rakyat bersifat up to date selama 24 jam sehingga pembaca dapat mengakses berita kapan saja. Kedaulatan Rakyat merupakan industri media yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat baik di Yogyakarta maupun kota sekitarnya. Hal tersebut dikarenakan Kedaulatan Rakyat sudah ada sejak lama seiring dengan perkembangan zaman.
            Surat kabar Kedaulatan Rakyat telah menjadi surat kabar yang terkenal dan diminati banyak orang, tetapi bukan berarti tidak ada kesalahan seperti dalam menulis dan menggunakan kata-kata untuk berita yang diterbitkan. Pada edisi 10 Februari 2014 ditemukan banyak kesalahan penulisan singkatan dan akronim. Penulisan singkatan terutama nama gelar dan nama orang dapat ditemukan di banyak halaman. Oleh karena itu, makalah ini akan meneliti kesalahan penulisan singkatan dan akronim, khususnya pada kolom Lingkar Yogya.


B.   Rumusan Masalah
        Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam analisis ini adalah
1)    Bagaimana bentuk kesalahan penulisan singkatan dalam kolom Lingkar Yogya pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014?
2)    Bagaimana bentuk kesalahan penulisan akronim dalam kolom Lingkar Yogya pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014?

C.   Tujuan Penelitian
        Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat digambarkan tujuan peneliti-an, yaitu:
1)    untuk mendeskripsikan kesalahan penulisan singkatan dalam kolom Lingkar Yogya
    pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014.
2)    untuk mendeskripsikan kesalahan penulisan akronim dalam kolom Lingkar Yogya
    pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014.


















BAB II
PEMBAHASAN DATA

    Data diperoleh dari Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014 khususnya pada kolom Lingkar Yogya. Pada kolom Lingkar Yogya terdapat enam wacana, yaitu Finalisasi Surat Suara “Satu Mundur, Jumlah Caleg 446 Orang”, Program Pengelolaan Penyakit Kronis “Ambil Obat Sebulan Sekali”, Raperda Jasa Kontruksi Mendesak Diterbitkan, Pelebaran Jalan Dudukan-Ngentakrejo “Warga Minta Tanah untuk Pindahkan Makam”, Disinyalir Rumah Makan Tarik Pajak “Tak Pernah Disetorkan ke Daerah”, dan Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat”. Dari enam wacana tersebut ditemukan kesalahan penggunaan singkatan terdapat pada lima wacana, yakni wacana satu, dua, empat, lima, dan enam, sedangkan akronim terdapat pada tiga wacana, yakni wacana satu, tiga, dan enam. Kesalahan penggunaan singkatan dan akronim baik dari segi penggunaan tanda baca maupun kesalahan pemakaian singkatan dan akronim itu sendiri akan dibahas sebagai berikut:
A.   Singkatan
a.    Wacana satu
            Wacana satu yang berjudul Finalisasi Surat Suara “Satu Mundur, Jumlah Caleg 446 Orang”  terdapat kesalahan singkatan nama gelar, yakni pada paragraf kedua yang terlihat pada kutipan di bawah ini:
“KPU akan mengirim pemberitahuan ke masing-masing tempat pemungutan suara (TPS) atas pengunduran diri caleg yang bersangkutan,” kata Muhammad Ahmadi Ruslan Hani MPdI, anggota KPU Kabupaten Gunungkidul, Minggu (9/12)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Penulisan singkatan Muhammad Ahmadi Ruslan Hani MPdI merupakan kesalahan tanda baca koma dan kesalahan penulisan singkatan nama gelar MPdI. Hal itu karena setelah nama tidak diikuti dengan tanda baca koma dan setelah huruf M, d, dan I tidak diikuti tanda titik. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Selain itu, singkatan nama orang, nama gelar sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
        Pembetulan kesalahan penggunaan singkatan pada wacana satu yang berjudul Finalisasi Surat Suara “Satu Mundur, Jumlah Caleg 446 Orang” ialah sebagai berikut:
“KPU akan mengirim pemberitahuan ke masing-masing tempat pemungutan suara (TPS) atas pengunduran diri caleg yang bersangkutan,” kata Muhammad Ahmadi Ruslan Hani, M.Pd.I., anggota KPU Kabupaten Gunungkidul, Minggu (9/12)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

b.    Wacana dua
Wacana dua yang berjudul Program Pengelolaan Penyakit Kronis “Ambil Obat Sebulan Sekali” terdapat kesalahan singkatan nama gelar, yakni pada paragraf pertama yang terlihat pada kutipan di bawah ini:
“Kebijakan ini untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan penderita penyakit kronis,” kata drg Isti Indiyani MM, Direktur RSUD Wonosari, Sabtu (8/2)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Kesalahan penulisan singkatan drg Isti Indiyani MM merupakan kesalahan tanda baca koma dan kesalahan penulisan singkatan nama gelar MM. Hal itu karena setelah nama gelar drg tidak diikuti dengan tanda baca titik dan setelah nama orang tidak diikuti tanda baca koma. Selain itu huruf M tidak diikuti tanda titik. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Selain itu, singkatan nama orang, nama gelar sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
        Pembetulan kesalahan penggunaan singkatan pada wacana dua berjudul Program Pengelolaan Penyakit Kronis “Ambil Obat Sebulan Sekali” ialah sebagai berikut:
“Kebijakan ini untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan penderita penyakit kronis,” kata drg. Isti Indiyani, M.M., Direktur RSUD Wonosari, Sabtu (8/2)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)


c.    Wacana empat
        Wacana empat yang berjudul Pelebaran Jalan Dudukan-Ngentakrejo “Warga Minta Tanah untuk Pindahkan Makam” terdapat kesalahan kesalahan singkatan nama orang, yakni pada paragraf ketiga yang terlihat pada kutipan di bawah ini:
“R Pairi Hadi Murjiyo, warga Pendukuhan Dudukan, Desa Salamrejo yang mengikuti pertemuan di Desa Salamrejo mengungkapkan setuju pemakaman yang terkena pelebaran di pindah ke lokasi baru”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Kesalahan penulisan singkatan nama orang pada R Pairi Hadi Murjiyo karena tidak adanya tanda titik setelah singkatan R. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) singkatan nama orang, nama gelar sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
        Pembetulan kesalahan penggunaan singkatan pada wacana empat berjudul Pelebaran Jalan Dudukan-Ngentakrejo “Warga Minta Tanah untuk Pindahkan Makam” ialah sebagai berikut:
“R. Pairi Hadi Murjiyo, warga Pendukuhan Dudukan, Desa Salamrejo yang mengikuti pertemuan di Desa Salamrejo mengungkapkan setuju pemakaman yang terkena pelebaran di pindah ke lokasi baru”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

d.    Wacana lima
        Wacana lima berjudul Disinyalir Rumah Makan Tarik Pajak “Tak Pernah Disetorkan ke Daerah”, terdapat kesalahan kesalahan singkatan nama gelar dan nama orang, yakni pada paragraf kedua dan keempat.
a)    Paragraf Kedua
    Pada paragraf kedua kesalahan singkatan terlihat pada kutipan di bawah ini:
“Diakui oleh Drs Supartono MSi, Kepala DPPKAD Gunungkidul, masih banyak potensi pajak restoran yang belum ditarik”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Kesalahan penulisan singkatan Drs Supartono MSi merupakan kesalahan tanda baca koma dan kesalahan penulisan singkatan nama gelar MSi. Hal itu karena setelah nama gelar Drs tidak diikuti dengan tanda baca titik dan setelah nama orang tidak diikuti tanda baca koma. Selain itu, huruf M dan Si tidak diikuti tanda titik. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Selain itu, singkatan nama orang, nama gelar sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
        Pembetulan kesalahan penggunaan singkatan pada wacana empat berjudul Disinyalir Rumah Makan Tarik Pajak “Tak Pernah Disetorkan ke Daerah” pada paragraf kedua ialah sebagai berikut:
“Diakui oleh Drs. Supartono, M.Si., Kepala DPPKAD Gunungkidul, masih banyak potensi pajak restoran yang belum ditarik”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

b)    Paragraf Keempat
    Pada paragraf keempat kesalahan singkatan terlihat pada kutipan di bawah ini:
“Menurut Supartono yang didampingi Kabid Aset Daerah RR Noor Endra Triwulandari SE, besaran pajak setoran restoran 10 persen dari omzet penjualan selama 1 tahun”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Kesalahan penulisan singkatan RR Noor Endra Triwulandari SE merupakan kesalahan tanda baca koma dan kesalahan penulisan singkatan nama gelar SE. Hal itu karena nama orang RR tidak terdapat tanda titik dan setelah nama orang tidak terdapat tanda koma. Selain itu, nama gelar SE tidak terdapat tanda titik. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Selain itu, singkatan nama orang, nama gelar sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Pembetulan kesalahan penggunaan singkatan dan akronim pada wacana lima berjudul Disinyalir Rumah Makan Tarik Pajak “Tak Pernah Disetorkan ke Daerah” pada paragraf keempat ialah sebagai berikut:
“Menurut Supartono yang didampingi Kabid Aset Daerah R.R. Noor Endra Triwulandari, S.E., besaran pajak setoran restoran 10 persen dari omzet penjualan selama 1 tahun”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

e.    Wacana enam
        Wacana enam berjudul Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat” terdapat kesalahan kesalahan singkatan nama gelar dan nama orang, yakni pada paragraf pertama, kedua, dan keempat.
a)    Paragraf Pertama
            Pada paragraf kedua kesalahan singkatan terlihat pada kutipan di bawah                 ini:
“Melalui sistem yang bagus, BMT ikut mengurangi keberadaan bank plecit,” kata Wabup Gunungkidul, Drs H Immawan Wahyudi MH usai meresmikan Kantor Kas BMT Dana Insani di Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAIYO) Wonosari, Sabtu (8/2)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Kesalahan penulisan singkatan Drs H Immawan Wahyudi MH merupakan kesalahan kesalahan penulisan singkatan nama gelar Drs dan MH. Hal itu karena setelah nama gelar Drs tidak diikuti dengan tanda baca titik dan setelah nama orang tidak diikuti tanda baca koma. Selain itu, huruf M dan H tidak diikuti tanda titik. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Selain itu, singkatan nama orang, nama gelar sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Pembetulan kesalahan penggunaan singkatan pada wacana enam yang berjudul Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat” pada paragraf pertama ialah sebagai berikut:
“Melalui sistem yang bagus, BMT ikut mengurangi keberadaan bank plecit,” kata Wabup Gunungkidul, Drs. H. Immawan Wahyudi, M.H. usai meresmikan Kantor Kas BMT Dana Insani di Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAIYO) Wonosari, Sabtu (8/2)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

b)    Paragraf Kedua
        Pada paragraf kedua kesalahan singkatan terlihat pada kutipan di bawah ini:
    “Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral Dra Siwi Iriyani MSi, Ketua STAIYO Drs H Mardiyo MSi, Drs H Suharto Ketua Pengurus BMT Dana Insani dan undangan”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

        Kesalahan penulisan singkatan Dra Siwi Iriyani MSi, Drs H Mardiyo MSi, dan Drs H Suharto merupakan kesalahan tanda baca koma dan kesalahan penulisan singkatan nama gelar Dra, Drs, H dan MSi. Hal itu karena setelah nama gelar Dra tidak diikuti dengan tanda baca titik dan setelah nama orang tidak diikuti tanda baca koma. Selain itu, huruf M dan Si tidak diikuti tanda titik. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya. Selain itu, singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
        Pembetulan kesalahan singkatan pada wacana enam yang berjudul Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat” pada paragraf kedua ialah sebagai berikut:
    “Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral Dra. Siwi Iriyani, M.Si., Ketua STAIYO Drs. H. Mardiyo, M.Si., Drs. H. Suharto Ketua Pengurus BMT Dana Insani dan undangan”. (KR, 10 Februari 2014: 9)


B.   Akronim
        a.   Wacana satu
    Wacana satu yang berjudul Finalisasi Surat Suara “Satu Mundur, Jumlah Caleg 446 Orang”  terdapat kesalahan akronim, yakni pada paragraf keempat yang terlihat pada kutipan di bawah ini:
“Masukan dari Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), masyarakat dan informasi penyempurnaan data pemilih sangat diperhatikan”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

    Pemakaian akronim Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) merupakan kesalah-an akronim bukan nama diri. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
    Pembetulan kesalahan penggunaan akronim pada wacana satu berjudul Finalisasi Surat Suara “Satu Mundur, Jumlah Caleg 446 Orang” ialah sebagai berikut:
“Masukan dari panitia pengawas pemilu (panwaslu), masyarakat dan informasi penyempurnaan data pemilih sangat diperhatikan”. (KR, 10 Februari 2014: 9)




b.   Wacana Ketiga
    Wacana tiga berjudul Raperda Jasa Kontruksi Mendesak Diterbitkan terdapat kesalahan akronim, yakni pada paragraf pertama yang terlihat pada kutipan di bawah ini:
“Anggota Pansus Raperda Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Heri Sumardiyanta menegaskan, jasa konstruksi memiliki peranan penting dalam pembangunan infrastruktur. (KR, 10 Februari 2014: 9)

    Pemakaian akronim Pansus dan Raperda yang memiliki kepanjangan panitia khusus dan rancangan peraturan daerah merupakan kesalahan akronim bukan nama diri. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
    Pembetulan kesalahan penggunaan akronim pada wacana tiga yang berjudul Raperda Jasa Kontruksi Mendesak Diterbitkan ialah sebagai berikut:
“Anggota pansus raperda Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Heri Sumardiyanta menegaskan, jasa konstruksi memiliki peranan penting dalam pembangunan infrastruktur. (KR, 10 Februari 2014: 9)


c.   Wacana enam
    Wacana enam berjudul Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat” terdapat kesalahan akronim, yakni pada paragraf pertama yang terlihat pada kutipan di bawah ini:
    “Melalui sistem yang bagus, BMT ikut mengurangi keberadaan bank plecit,” kata Wabup Gunungkidul, Drs H Immawan Wahyudi MH usai meresmikan Kantor Kas BMT Dana Insani di Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAIYO) Wonosari, Sabtu (8/2)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)

    Penulisan akronim nama diri STAIYO merupakan singkatan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta. Menurut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Pembetulan kesalahan penggunaan akronim pada wacana enam yang berjudul Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat”
“Melalui sistem yang bagus, BMT ikut mengurangi keberadaan bank plecit,” kata Wabup Gunungkidul, Drs H Immawan Wahyudi MH usai meresmikan Kantor Kas BMT Dana Insani di Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (Staiyo) Wonosari, Sabtu (8/2)”. (KR, 10 Februari 2014: 9)


































BAB III
KESIMPULAN

A.  Kesimpulan
Hasil analisis pada Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014 khususnya pada kolom Lingkar Yogya terdapat enam wacana. Dalam wacana-wacana tersebut terdapat kesalahan singkatan dan akronim. Wacana satu berjudul Finalisasi Surat Suara “Satu Mundur, Jumlah Caleg 446 Orang” terdapat kesalahan singkatan nama gelar dan akronim bukan nama diri. Wacana dua berjudul Program Pengelolaan Penyakit Kronis “Ambil Obat Sebulan Sekali” terdapat kesalahan singkatan nama gelar. Wacana tiga berjudul Raperda Jasa Kontruksi Mendesak Diterbitkan terdapat kesalahan akronim bukan nama diri. Wacana empat berjudul Pelebaran Jalan Dudukan-Ngentakrejo “Warga Minta Tanah untuk Pindahkan Makam”  terdapat kesalahan kesalahan singkatan nama orang. Wacana lima berjudul Disinyalir Rumah Makan Tarik Pajak “Tak Pernah Disetorkan ke Daerah” terdapat kesalahan kesalahan singkatan nama gelar dan nama orang. Wacana enam berjudul Ikut Memerangi Rentenir “BMT Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat” terdapat kesalahan singkatan nama gelar dan akronim. Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa pada kolom Lingkar Yogya dalam Surat Kabar Kedaulatan Rakyat edisi 10 Februari 2014 kesalahan yang paling banyak terjadi pada singkatan nama gelar dan nama orang.










BAB III
PENUTUP
A.   Saran
1.    Bagi redaksi koran
    Bagi redaksi koran sebaiknya lebih mengetahui dan memahami mengenai penulisan ejaan yang benar, dalam hal ini adalah singkatan dan akronim. Akan lebih baik apabila redaksi koran menggunakan ejaan yang sesuai dengan EYD yang benar.
2.    Bagi peneliti
    Bagi peneliti selanjutnya akan lebih baik jika mengkaji dan meneliti kebahasaan lainnya, misalnya kesalahan penggunaan tanda baca, penggunaan unsur-unsur serapan, dan sebagainya.
3.    Bagi pembaca
    Bagi pembaca sebaiknya lebih banyak memeperhatikan penggunaan ejaan yang baik dan benar terutama singkatan dan akronim. Pembaca dapat mengaplikasikan penggunaan ejaan yang benar dalam menulis seperti jika menulis makalah, laporan, atau skripsi.






DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2008. Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 0543a/U/1987 Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Hi-fest Publishing.

Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. 10 Februari 2014. Halaman 9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar