Sabtu, 26 Desember 2015

SEPEDA ALIF (cerpen)

SEPEDA ALIF

    Awan gelap masih betah menggantung di langit sore ini. Seorang anak tengah memutari lapangan dengan sepeda usang yang lebih besar darinya. Bersama temannya ia terlihat tersenyum senang tak mempedulikan hujan akan segera datang. Mereka berputar dan berputar lagi sampai hujan mengguyur badan mereka. Secepat kilat mereka menggayuh sepedanya menuju sebuah gubuk di pinggir lapangan. Gubuk itu biasa digunakan para petani untuk beristirahat saat bekerja. Maklum di desanya hanya ada satu lapangan yang biasa digunakan untuk bermain oleh anak-anak desa itu. Letak lapangan itu bersebelahan dengan sawah.
    Alif biasa ia disapa siang itu pergi bermain dengan teman sekelasnya Aan. Hari itu Alif sangat marah sekembalinya dari sekolah. Ia dipanggil kepala sekolahnya karena belum membayar uang sekolah selama delapan bulan terakhir. Kata Pak Wawan kepala sekolah Alif, ia harus segera melunasi uang sekolah atau ia akan dikeluarkan dari sekolah. Pak Wawan memberi batas waktu membayar sampai bulan depan. Sampai rumah ia berganti baju, makan lalu diam-diam mengambil sepeda milik ayahnya dan pergi tanpa berpamitan dengan ibunya.
    Dalam hati Alif tak siap mengatakan hal itu pada sang Ibu. Ia merasa kasihan dan takut membuat Ibunya merasa sedih. Apalagi semenjak Ayahnya jatuh sakit, Ibunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Siang itu dalam hatinya ia hanya ingin menumpahkan seluruh rasa sedih dan marahnya dengan bersepeda.
    Meskipun ia tidak pernah menggunakan sepeda milik Ayahnya itu karena orang tuanya tidak menyukai ia bermain dengan sepeda itu. Kata Ayahnya waktu itu ia masih terlalu kecil untuk naik sepeda itu. Memang waktu itu ia masih kecil masih SD. “Jadi kini tidak masalah jika kupakai sepeda itu” ucap Alif dalam hati.
    “ Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Aan. Alif tersadar dari lamunanya mendengar suara sahabatnya itu. Tidak tahu harus menjawab apa Alif pun hanya mampu mengalihakan pembicaraan Aan. “ Hujan sudah berhenti. Ayo kita pulang!”. Sampai di rumah Alif mendapati Ibunya sedang menjahit seragam pramukanya yang robek minggu lalu. “ Dari mana saja, kenapa baru pulang? Kamu bawa kemana sepeda itu?” tanya Ibunya. “ Habis main Bu, sama Aan di lapangan. Main sepeda”  jawabnya sambil menyandarkan sepeda di dinding bambu rumahnya.
    “ Ayahmu kan sudah bilang jangan kamu gunakan sepeda itu”. “Memang kenapa, Bu. Saya kan sudah besar. Bukan anak SD lagi. Mengapa tidak boleh?” tanyanya penasaran. “ Bukan tidak boleh tapi sepeda itu satu-satunya harta kita. Yang Ayahmu rawat baik-baik supaya kamu bisa pakai saat SMA nanti. Kamu kan tahu jarak rumah dari SMA terdekat saja sangat jauh. Ayahmu tak mau kamu capek di jalan kalau SMA nanti” jelas sang ibu.
    Dengan berat hati ia mengatakan yang sebenarnya pada Ibunya. “ Tidak perlu Bu, saya tidak akan melanjutkan SMA. Bahkan lulus SMP saja belum tentu bisa”.  Alif bergegas masuk rumah lalu keluar lagi membawa amplop putih diberikannya pada sang Ibu. Keduanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.

    Tiga bulan kemudian….

    Malam ini ketika hujan turun dengan lebatnya dan orang-orang tengah terlelap bersama mimpi-mimpinya. Alif yang terbangun mendapati sang Ibu tengah bersujud di atas sajadahnya. Sayup-sayup ia mendengar rintihan doa yang dipanjatkan Ibunya terdengar namanya disebut bersama isak tangis yang menyayat hatinya. Tak kuasa ia pun memutuskan untuk melanjutkan berlayar di alam mimpinya.
    “Lif, bangun sudah subuh….” ucap ibunya pelan. Setiap hari sang Ibu tak pernah lupa membangunkannya untuk shalat subuh. Bagi Alif itu sudah menjadi kebiasaan sejak kecil ia selalu diajarkan untuk selalu beribadah pada Allah swt. Apalagi saat ini keluarganya tengah ditimpa musibah, sang Ayah sedang sakit bukannya bertambah baik justru penyakitnya makin memburuk. Sehingga sampai pada sebuah kenyataan bahwa ia harus berhenti sekolah. Ibunya yang kini mengambil pernah Ayahnya sebagai pencari nafkah hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari saja, tidak sanggup untuk membiayai sekolahnya. Meskipun seharusnya tahun ini ia sudah duduk di kelas 2 SMP.
    “Bu, saya berangkat dulu….” pamit Alif sambil menuntun sepeda bututnya. Sepeda itu adalah milik Ayahnya yang dulu sering dipakainya untuk bekerja sebelum jatuh sakit. Sepeda itu sudah sangat tua warnannya pun tak lagi tampak seperti warna biru. Dulu saat masih duduk di kelas 6 SD ia sering meminta Ayahnya untuk mengajarinya mengendarai sepeda itu. Namun Ayahnya selalu menolak permintaannya mungkin karena saat itu ia belum tinggi benar. Meskipun begitu saat itu ia adalah murid yang rajin dan pandai. Kini Alif  setiap pagi berangkat untuk mencari uang dengan sepeda itu. Beberapa waktu yang lalu ia diizinkan untuk bantu-bantu di rumah Haji Somad sekedar membantu mencari rumput  untuk makan ternak atau membantu mengantarkan jajanan buatan istri Haji Somad.
    “Alif… kapan kamu mau kembali sekolah?” tanya Aan teman sebangkunya semenjak kelas SD dulu. “Entahlah, saya juga ingin sekolah lagi tapi bagaimana ya… kamu tahu sendirilah bagaimana keadaan keluarga saya semenjak ayah saya sakit sebelum ayah saya sakit saja kami sulit untuk membayar sekolah apalagi sekarang” jawab Alif sedih. Selalu timbul rasa sakit dihatinya saat melihat teman-teman sebayanya berangkat sekolah namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa dilakukannya keculai menerimannya. Namun jika teringat akan cita-citanya untuk menjadi dokter terkadang ia pun menangis.
    “Lif…bagaimana kalau kamu bilang saja sama ibumu kalau kamu mau sekolah lagi saya benar-benar kesepian tidak ada teman sebaik kamu di sekolah” bujuk Aan.  “Ngawur kamu! Tadi sudah saya bilang mereka tidak mampu membiayai sekolahku kamu lihat sendiri sekarang saya mau berangkat ke pekarangan cari rumput untuk makan ternak” ujar Alif. “Memang ternak siapa?” tanya Aan. “Haji Somad, beberapa minggu yang lalu saya sudah mulai bantu-bantu disana” jelas Alif pada sahabatnya itu. “Ya sudah kalau begitu kamu minta tolong saja sama Haji Somad, beliau kan baik orangnya siapa tahu mau membiayai sekolah kamu” bujuk Aan tiada henti. “Sudahlah saya mau berangkat ke pekarangan, cepat kamu berangkat ke sekolah nanti telat” suruh Alif.
    Tiba-tiba Ibunya keluar rumah menghampiri Alif yang akan segera berangkat. “Lif, tunggu ibu ada titipan buat Pak Haji Somad. Ini…” sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna putih. “Apa ini Bu?” tanya Alif.  “Nanti kamu juga akan tahu, pokoknya jangan lupa diberikan ke Pak Haji ya..”? suruh sang Ibu. “Baik, Bu. Kalau begitu saya pergi dulu” kata Alif sambil mencium tangan ibunya.
    Ia mengayuh sepedanya ke arah sawah yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Ia harus melewati jalan raya lalu belok kiri lurus dan melewati lapangan, baru sampai di pekarangan milik Haji Somad. Biasanya ia suka bertemu dengan teman-teman sekolahnya di jalan raya, mereka selalu menyapanya ramah dan bertanya kapan ia akan kembali sekolah.
    Setelah sampai di pekarangan ia langsung mencari rumput. Beberapa orang yang hendak ke sawah menyapa Alif dengan ramah. Seorang tetangga rumah yang biasa dipanggil Mang Rusi menyapanya. “ Lif, rajin sekali kamu pagi-pagi sudah cari rumput. Anak rajin seperti kamu pasti jadi orang sukses. Semangat dan berusaha lah”. Alif kembali termenung dan membalas ucapan Mang Rusi dengan sebuah senyuman kecut.  Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, tanpa beristirahat terlebih dahulu hari ini ia langsung pergi ke rumah Haji Somad untuk memberikan titipan ibunya.
    “Permisi Pak Haji. Assalamu’alaikum” sapa Alif. “Wallaikumsallam, oh kamu Alif ayo masuk-masuk. Sudah selesai cari rumputnya, cepat sekali?” ujar Pak Haji ramah. “Iya Pak Haji, saya ada titipan dari ibu katanya buat Pak Haji”. Alif pun memberikan amplop itu padanya. “Apa ini?” tanya Pak Haji sambil membuka amplop tersebut. “Sebuah surat, biar saya baca dulu” kembali Pak Haji berbicara. Alif menunggu dengan gugup ingin tahu apa isi surat tersebut apakah berkaitan dengannya atau tidak. Dalam hati ia berucap semoga itu adalah jawaban dari segala keinginanku untuk kembali bersekolah.
    Setelah selesai membacanya Pak Haji mengangguk-anggukkan kepala seolah sependapat dengan isi surat itu. Alif mendengarkan dengan saksama apa yang dibicarakan oleh beliau. “Begini lo ceritanya, dua minggu yang lalu membicarakan tentang bisnis bersama untuk membuat toko kue dengan istri saya juga ibumu. Berharap ibumu bisa membantu dengan usaha yang akan kami buat ini. Kami tahu ibumu pintar memasak apapun termasuk kue-kue jadi kami mengajak ibumu bergabung.
    Tapi saat itu ibumu tidak langsung menyetujuinya katanya banyak yang harus dipertimbangkan” jelas Pak Haji panjang lebar. “Lalu…?” tanya Alif penasaran. “Lalu ya ini jawabannya ada di surat ini” ucap beliau sambil menunjukkan suratnya. Alif pun membaca surat itu ia mengerti apa yang dimaksud sang Ibu. “Kamu mengerti? Biar saya perjelas jadi saya akan membantumu untuk sekolah lagi sampai ibumu merasa mampu membiayainya melalui bisnis toko kue itu” kata Pak Haji menjelaskan.
    “Sebenarnya ibumu dan saya itu kawan lama waktu SD dulu tapi sayang dia tidak melanjutkan ke SMP. Saya dan istri kebetulan juga sudah membujuk ibumu supaya kami bisa membantumu sekolah lagi tapi begitulah ibu selalu berpikir sebelum memutuskan. Kami senang bisa membantumu apalagi kamu anak yang rajin dan pintar.” puji Pak Haji pada Alif. “Alhamdullilah. Terima kasih Pak Haji, saya benar-benar berterima kasih” ucap Alif tanpa sadar air matanya pun menetes. “Tapi ada sayaratnya” kata Pak Haji menggoda Alif. “Syarat?” “Iya. Kamu harus tetap membantu saya cari rumput karena tidak ada yang mau cari rumput untuk makan sapi-sapi saya. Ya seminggu  dua kali lah habis sepulang sekolah. Bagaimana?” tanya Pak Haji. “Tentu…tentu saya mau” jawab Alif dengan bersemangat.
    Esok harinya Alif sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tak disangka Haji Somad datang dengan mobilnya. “ Bagaimana sudah siap sekolah lagi?” tanya Haji Somad. “ Ini semua berkat bantuan Pak Haji, saya sangat berterimakasih” ujar Alif senang. “ Yayaya…. ayo sekarang kita berangkat ke sekolahmu nanti saya yang bicara dengan kepala sekolahmu” kata Haji Somad tak kalah senang. “ Sebentar saya panggil Ibu dulu”. “ Lif, di depan ada sesuatu untukmu” kata Haji Somad. “ Untuk saya?”  ujar Alif terkejut melihat hadiah itu terparkir di halaman rumahnya. Sebuah sepeda berwarna merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar